DAHSYATNYA DO’A ORANG TUA
Buku yang akan saya review berjudul “Dahsyatnya Do’a Orang Tua”
karya M. Yusuf Amin Nuhroho, merupakan sebuah buku yang memuat misteri dibalik
dahsyatnya do’a orang tua. Tidak hanya itu, saya pun disuguhkan sebab tajamnya
kutukan orang tua.
Penulis berusaha
menganalisis, suatu hal yang menjadikan dunia ini kacau dan terpuruk adalah
karena sebagian besar orang lebih senang mencari untung ketimbang memberi
untung; lebih senang dibantu ketimbang membantu; lebih senang menerima
ketimbang memberi.Orang baru akan memberi manakala ia sudah diberi. Kalaupun
ada yang memberi terlebih dahulu, biasanya ia akan menunggu untuk dibalas
pemberiannya itu, mengungkit-ungkitnya, atau bahkan menagihnya.
Pembicaraan
mengenai do’a orang tua terhadap anak-anaknya sama dahsyatnya dengan do’a para
nabi untuk umatnya dalam buku M. Yusuf Amin Nuhroho banyak di dominasi oleh
kasus yang memperlihatkan cara berbakti seorang anak kepada orang tua dilakukan
dengan cara yang keliru. Menurutnya, cara yang keliru ibarat petani yang ingin
mendapatkan hasil memuaskan dari sawahnya di mana ia telah menghabiskan banyak
biaya tetapi tak pernah mau belajar cara penanaman dan perawatan yang baik.
Usahanya pun jadi sia-sia. Kalaupun ia bias panen, hasilnya pasti tidak akan
memuaskan. Karenanya, Penulis memberikan masukan bahwa kita mesti belajar
bagaimana cara berbakti kepada orang tua yang benar, cara mengharapkan do’a dari
mereka, dan mencegah kutukannya.
Selanjutnya
Penulis menyebutkan dua hal yang menjadi inti pembicaraan di dalam bukunya
tersebut, yakni Do’a dan kutukan.
Do’a, yang
diucapkan oleh siapa pun, kapan pun, dan dimana pun tidak terkecuali terkandung
maslahat bersamanya. Manffat tersebut bukan saja akan dipetik oleh orang yang
berdo’a, tetapi juga oleh orang lain yang di do’akan. Aktivitas berdo’a
mengandung dua kekuatan, yakni kekuatan eksternal dan kekuatan internal. Dua
kekuatan inilah yang sungguh-sungguh dibutuhkan dalam kehidupan seseorang. Dua
kekuatan ini bias besar dan bias pula kecil. Nah, do’a orang tua mengandung
kekuatan eksternal dan internal yang sungguh dahsyat. Karena itulah, kerugian
besar bagi sang anak yang durhaka terhadap orang tuanya, sehingga ia jauh dari
do’a mereka, dan berpeluang besar mendapat kutukan.
Melihat dua hal di
atas kemudian penulis menyimpulkan, buku ini tidak akan berarti apa-apa kalau
hanya sekedar dibaca. Tanpa perenungan, yang kemudian memunculkan spirit kita
untuk berubah, mungkin buku ini hanya akan memberi wawasan dan pengetahuan.
Sungguh, bukan pengetahuan yang sungguh-sungguh dibutuhkan, melainkan amal.
Pengetahuan adalah cahaya, dan cahaya itu akan memancar di ruang kosong (tidak
berguna) tanpa diamalkan.
Selanjutnya saya
pun setuju dengan penulis, banyak-banyklah merenung. Karena dengan merenung,
kita akan tahu betapa orang tua telah banyak memberi kepada kita.
Banyak-banyaklah berkaca, karena dengan itu Kita akan tahu begitu banyak
kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat terhadap orang tua.