Selasa, 18 Maret 2014

Review Buku


DAHSYATNYA DO’A ORANG TUA
Buku yang akan saya review berjudul “Dahsyatnya Do’a Orang Tua” karya M. Yusuf Amin Nuhroho, merupakan sebuah buku yang memuat misteri dibalik dahsyatnya do’a orang tua. Tidak hanya itu, saya pun disuguhkan sebab tajamnya kutukan orang tua.
            Penulis berusaha menganalisis, suatu hal yang menjadikan dunia ini kacau dan terpuruk adalah karena sebagian besar orang lebih senang mencari untung ketimbang memberi untung; lebih senang dibantu ketimbang membantu; lebih senang menerima ketimbang memberi.Orang baru akan memberi manakala ia sudah diberi. Kalaupun ada yang memberi terlebih dahulu, biasanya ia akan menunggu untuk dibalas pemberiannya itu, mengungkit-ungkitnya, atau bahkan menagihnya.
            Pembicaraan mengenai do’a orang tua terhadap anak-anaknya sama dahsyatnya dengan do’a para nabi untuk umatnya dalam buku M. Yusuf Amin Nuhroho banyak di dominasi oleh kasus yang memperlihatkan cara berbakti seorang anak kepada orang tua dilakukan dengan cara yang keliru. Menurutnya, cara yang keliru ibarat petani yang ingin mendapatkan hasil memuaskan dari sawahnya di mana ia telah menghabiskan banyak biaya tetapi tak pernah mau belajar cara penanaman dan perawatan yang baik. Usahanya pun jadi sia-sia. Kalaupun ia bias panen, hasilnya pasti tidak akan memuaskan. Karenanya, Penulis memberikan masukan bahwa kita mesti belajar bagaimana cara berbakti kepada orang tua yang benar, cara mengharapkan do’a dari mereka, dan mencegah kutukannya.
            Selanjutnya Penulis menyebutkan dua hal yang menjadi inti pembicaraan di dalam bukunya tersebut, yakni Do’a dan kutukan.
            Do’a, yang diucapkan oleh siapa pun, kapan pun, dan dimana pun tidak terkecuali terkandung maslahat bersamanya. Manffat tersebut bukan saja akan dipetik oleh orang yang berdo’a, tetapi juga oleh orang lain yang di do’akan. Aktivitas berdo’a mengandung dua kekuatan, yakni kekuatan eksternal dan kekuatan internal. Dua kekuatan inilah yang sungguh-sungguh dibutuhkan dalam kehidupan seseorang. Dua kekuatan ini bias besar dan bias pula kecil. Nah, do’a orang tua mengandung kekuatan eksternal dan internal yang sungguh dahsyat. Karena itulah, kerugian besar bagi sang anak yang durhaka terhadap orang tuanya, sehingga ia jauh dari do’a mereka, dan berpeluang besar mendapat kutukan.
            Melihat dua hal di atas kemudian penulis menyimpulkan, buku ini tidak akan berarti apa-apa kalau hanya sekedar dibaca. Tanpa perenungan, yang kemudian memunculkan spirit kita untuk berubah, mungkin buku ini hanya akan memberi wawasan dan pengetahuan. Sungguh, bukan pengetahuan yang sungguh-sungguh dibutuhkan, melainkan amal. Pengetahuan adalah cahaya, dan cahaya itu akan memancar di ruang kosong (tidak berguna) tanpa diamalkan.
            Selanjutnya saya pun setuju dengan penulis, banyak-banyklah merenung. Karena dengan merenung, kita akan tahu betapa orang tua telah banyak memberi kepada kita. Banyak-banyaklah berkaca, karena dengan itu Kita akan tahu begitu banyak kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat terhadap orang tua.

Kamis, 27 Februari 2014

About Me

Its Mine: About Me: Nama saya Herminawati Muhaemin biasa dipanggil   Mi, tapi ada juga yang suka memanggil dengan sebutan Hermin. Saya berjenis kelamin peremp...